Tampilkan postingan dengan label ★★★★. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ★★★★. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Agustus 2014

[Book Review] H.I.V.E 2: OVERLORD PROTOCOL

Judul: H.I.V.E 2: Overlord Protocol
Penulis: Mark Walden
Penerbit: Mizan
Tahun Terbit: Maret 2014
Tebal: 469 Halaman
ISBN: 978-979-433-714-1
Harga: Rp 59.000,-
Bintang: ★★★★

Keinginan Otto Malpense untuk melarikan diri dari H.I.V.E kini harus dipendam sementara waktu. Bukan karena pengawasan super ketat dari staf keamanan, karena yakinlah, meloloskan diri dari mereka sama mudahnya dengan memancing ikan di akuarium bagi Otto. Melainkan karena ikrar janji yang diucapkan Otto di hadapan sahabanya, Wing Fanchu, untuk terus bertahan hingga mereka mendapatkan penjelasan masuk akal mengenai amulet di dada Dr.Nero. Benda itu menjadi penting karena separuh bagian dari amulet tersebut ada pada Wing. Dan setahu Wing, kalau sampai ada seseorang yang menyimpan bagian lain dari amulet tersebut maka bisa jadi orang tersebut turut bertanggung jawab atas kematian ibunya. Lantas, benarkah Dr.Nero merupakan sosok itu?
Di tengah kebingungan tersebut, datang kabar kematian ayah Wing. Membuat Wing –dan tentunya Otto– diizinkan untuk meninggalkan H.I.V.E guna menghadiri pemakamannya. Sayang, hal itu malah menyeret mereka ke lubang jebakan. Cypher, salah satu penjahat terkemuka di organisasi G.L.O.V.E berencana menguak rahasia Protokol Overlord, sebuah alat yang membuat siapa pun dapat menguasai dunia. Dan menyingkirkan keberadaan Wing dan Otto merupakan awal dari semua rencana itu.
Ketika menyadarinya, Otto hanya memiliki waktu 24 jam untuk membalik keadaan. Menemukan sarang musuh, menebak detail rencana Cypher, menguak alasan mengapa Protokol Overlord begitu dilarang, sekaligus mencari tahu rahasia yang tersimpan di balik keterkaitan amulet Wing dan Dr.Nero. Otto Malpense memang dididik untuk menjadi penjahat. Namun tak ada salahnya bukan menghabisi penjahat lain? Atau, dunia akan berubah selamanya…
(^^)
Ini buku kedua dari seri H.I.V.E yang saya baca. Mengingat track record buku pertama yang lumayan apik, maka tak salah rasanya jika saya menaruh banyak harapan dalam novel ini. Dan syukurnya, Mark Walden sekali lagi berhasil memenuhi ekspetasi tersebut. Ia sukses menghadirkan cerita yang jauh lebih memukau dibanding buku pertama. Aksi-aksi meloloskan diri dari kematian seakan menjadi hal yang begitu biasa dalam buku kedua serial H.I.V.E ini. Huft, seakan menyaksikan film penuh adrenalin nih…^^
Jika di buku pertama, setting cerita lebih banyak berlangsung di dalam komplek H.I.V.E, maka lain halnya dengan di buku kedua ini. Karena H.I.V.E 2: Overlord Protocol menyuguhkan bermacam-macam latar dalam setiap alurnya. Ada di pusat kota, pelabuhan, hutan, gua bawah tanah, hingga apartemen mewah di kota Tokyo. Dan itu semua berada di luar kawasan ‘Gunung Berapi’ tempat H.I.V.E berada. Sehingga imajinasi pembaca tidak lantas terkekang begitu sempit dengan hanya terfokus pada gedung sekolahan. 
Dalam buku kedua ini pula, Mark Walden mengupas lebih banyak sisi-sisi kemanusiaan dari Dr.Nero dan Raven. Menghilangkan kesan ‘penjahat kejam’ yang mulai melekat pada mereka di buku pertama. Sekaligus menjawab rasa penasaran pembaca yang bisa jadi berpikiran semacam ini, ‘Kok bisa para penjahat memiliki kepedulian tinggi terhadap dunia pendidikan?’ Disamping itu juga memunculkan nilai moral bahwa setiap orang memiliki sisi kebaikan, sekalipun ia seorang penjahat. Yah, mungkin terkesan subjektif. Karena saya akui jika dalam serial H.I.V.E ini saya diharuskan memakai sudut pandang tokoh utama sebagai penjahat, yang mana itu berarti bahwa semua tindak tanduk mereka selalu akan terlihat sebagai suatu kebaikan dalam kacamata pembesar sudut pandang saya. Tapi oke-oke aja sih…
Meski demikian, buku ini tak lantas lepas dari kritik begitu saja. Semenjak serial pertama H.I.V.E saya selalu bertanya-tanya mengapa yang senantiasa ditonjolkan hanya beberapa murid saja? Paling banter hanya Otto, Wing, Laura, Shelby, Nigel, Franz, Block, serta Tackle. Enam diantara mereka berasal dari Program Alpha, sedang Block dan Tackle dari Program Henchman. Dan setahu saya, tidak ada satupun nama murid lainnya yang diungkit selain mereka semenjak buku pertama. Boro-boro siswa Program Politik/Ekonomi bakal diceritakan, lha wong Program Alpha yang memiliki lebih dari 150 pelajar saja banyak yang terlupakan. Padahal H.I.V.E adalah lingkungan persekolahan wajib asrama selama 6 tahun, dimana tentunya sosialisasi merupakan satu kebutuhan lazim bagi setiap penghuninya. Bagaimana mungkin selama setahun, mereka hanya berkenalan dengan 6 hingga 8 orang teman saja?    
Meski serial ini mengambil judul Higher Institute of Villainous Education –yang berarti Sekolah Tinggi Ilmu Kejahatan–, namun cerita yang ditampilkan lebih banyak terfokus pada hal-hal di luar dunia pendidikan. Sentral cerita cenderung ada pada tokoh Otto Malpense, dan bukan sekolahan itu sendiri. Jarang saya dapati, deskripsi mengenai kehidupan normal seorang pelajar. Seperti kondisi kegiatan belajar-mengajar, proses penggarapan berbagai tugas asrama, latihan-latihan pribadi setiap siswa guna mengasah kemampuan mereka masing-masing, dan lain sebagainya. Adanya malah cerita seputar aksi heroik Otto dan kawan-kawannya. Dan parahnya, itu menempati seluruh porsi buku. Disini kita hanya akan disuguhkan berbagai tindakan Otto sebagai pahlawan jenius, dan bukan selaku pelajar biasa. 
Oke, meski demikian, saya tetap berpikir bahwa novel ini begitu luar biasa. 4 dari 5 bintang yang ada. Rekomendasi saya untuk buku kedua serial H.I.V.E ini ialah para pembaca yang haus dengan aksi-aksi menegangkan nan memacu adrenalin. Dengan syarat, mereka sanggup memainkan imajinasi mereka, agar setiap kata-kata yang dibaca bisa ter-visualisai-kan layaknya sebuah film layar lebar. ^^
 









Jumat, 11 Juli 2014

[Book Review] H.I.V.E (1): Higher Institute of Villainous Education

Judul: H.I.V.E: Higher Institute of Villainous Education
Penulis: Mark Walden
Penerbit: Mizan
Tahun Terbit: Maret 2014 (Cetakan Kedua)
Tebal: 394 Halaman
ISBN: 978-979-433-713-4
 Harga: Rp 59.000,-
Bintang: ★★★★


I'm sure that there must have been times when you have read books or watched films and found yourself secretly wishing for the villain to win. Why? Isn't that against the rules by which our society lives? Why should you feel this way? It's simple, really; the villain is the true hero of these tales, not the well-intentioned moron who somehow foils their diabolical scheme. The villain get's all the best lines, has the best costumes, has unlimited power and wealth- why on earth would anyone not want to be the villain?

Sekolah penjahat? Serius ada, nih? Yup! Higher Institute of Villainous Education (H.I.V.E) adalah sekolah yang khusus diperuntukkan bagi bakat-bakat alami penjahat dunia. Mereka diseleksi dengan sedemikian ketat, lalu dibawa secara paksa (baca: diculik) ke fasilitas H.I.V.E yang terletak dalam sebuah gunung berapi aktif di pulau terpencil di tengah lautan antah-berantah. Disana mereka akan dibekali lebih lanjut dengan berbagai pelatihan yang akan bermanfaat dalam karir kejahatan mereka di masa mendatang. 

Tertarik? Otto Malpense jelas tidak. Dipaksa tinggal selama 6 tahun untuk mempelajari keahlian-keahlian yang telah dikuasai semanjak kecil, jelas merupakan suatu kesia-siaan baginya. Jangan salah, di usia semuda itu, Otto sudah pernah menggulingkan satu pemerintahan sah dengan cara yang tak akan pernah bisa dibayangkan oleh orang dewasa manapun. Dia bukan hanya jenius, melainkan super-super-super-jenius! Otaknya seperti spons yang mampu menyerap berbagai pengetahuan dari buku-buku setebal ratusan halaman secara singkat. Maka, hanya ada satu hal yang dipikirkan Otto semenjak menginjakkan kaki di H.I.V.E: Kabur!
(^^)

Awalnya, saya skeptis dengan buku satu ini. Karena di front cover-nya terpampang tulisan, ‘Hogwarts untuk penjahat…namun tanpa sihir’. Membaca kata ‘Hogwarts’ membuat benak saya terpacu ke kenangan akan Harry Potter series. Jadilah, saya mengira novel ini adalah bacaan yang memanfaatkan ketenaran karya J.K Rowling itu untuk membangun citra di mata pembaca. Eh, ternyata salah besar. *tutup muka pake sarung*

Memang, ada beberapa aspek yang lumayan serupa dengan buku Harry Potter. Dua diantaranya ialah konsep kehidupan Otto dan kawan-kawan yang terfokus di H.I.V.E (kalau Harry di Hogwarts) dan pembagian bakat siswa H.I.V.E yang dibedakan menjadi 4 kelas dari Alpha, Henchman, Teknik, dan Politik/Ekonomi (di Harry Potter juga ada 4: Gryffindor, Hufflepuff, Ravenclaw, dan Slytherin). Namun cuma sampai disitu persamaan diantara keduanya. Selanjutnya, cerita berkembang menurut jalurnya sendiri-sendiri. Harry Potter serius mempersiapkan dirinya guna melawan Voldemort, sedang Otto Malpense fokus pada aksi ‘gila’-nya untuk kabur dari H.I.V.E.

Novel ini termasuk salah satu karya yang mengambil sudut pandang pelaku utama sebagai penjahat. Karena H.I.V.E adalah sekolah para penjahat terbaik di dunia sekaligus komponen dari organisasi kejahatan terbesar di dunia bernama G.L.O.V.E, sedang Otto Malpense merupakan satu bagian dari itu semua. Nah, terkadang di tengah-tengah keasyikan membacanya, saya lantas mencoba mendefinisikan ulang arti dari kata kejahatan. Menilai-nilai apakah yang dilakukan Otto saat memanipulasi beberapa kontraktor demi memperbaiki panti asuhannya termasuk sebuah kejahatan meski bertujuan baik? Menimbang apakah yang dilakukan Dr.Nero dengan mengurung semua siswa selama 6 tahun tanpa diperbolehkan bertemu dengan sanak famili di luar termasuk kebaikan yang dipaksakan atau bukan. Lantas, kabur dari hal semacam itu meski dilandasi dengan tujuan yang kurang tepat (karena Otto merasa bisa melakukan hal-hal yang lebih jahat di luar sana) juga lantas disebut sebagai kejahatan? 

Anggapan seperti di atas tadi menimbulkan warna abu-abu dalam menentukan mana tokoh protagonis dan mana tokoh antagonis. Semua lakon bisa saja menjadi keduanya tergantung dari sudut mana kita menilainya. Otto, meskipun dia lakon utama, bisa berada di pihak jahat saat ia menggulingkan perdana menteri negaranya dengan cara yang bisa dibilang cukup ‘keji’. Sebaliknya, kepedulian dia dalam menyelamatkan sekolah di bagian akhir novel juga dapat menggolongkannya sebagai tokoh protagonis, lho. Demikian pula dengan karakter abu-abu lainnya semacam Raven, Dr.Nero, dll. Bingung? Pastinya. Tapi mustahil Anda akan memikirkan detail semacam ini saat sedang asyik menikmati aliran alurnya, bukan? 

Secara keseluruhan saya tetap senang menikmati cerita dari novel ini, kok. Meski ending-nya sedikit menyimpang dari tujuan Otto semula, tetap saja novel ini berhasil menghadirkan ketegangan-ketegangan yang membuat pembaca semakin antusias. Rekomendasi bagi Anda yang menyukai cerita-cerita melarikan diri dari lokasi berpengaman ketat layaknya film ‘Escape Plan’ baru-baru ini! Empat bintang buat H.I.V.E 1 ini!

Senin, 07 Juli 2014

[Book Review] THE NAKED TRAVELER: Catatan Gokil Seorang Trinity

Judul: The Naked Traveler 1
Penulis: Trinity
Penerbit: c | Publishing (Bentang Pustaka)
Tahun Terbit: Januari 2012 (Cetakan ke-21)
Tebal: 282 Halaman
ISBN: 978-979-24-3963-6
Harga: Rp 44.500,-
Bintang: ★★★★


Teori-teorian bodoh yang saya simpulkan sendiri dari hasil pengamatan selama traveling adalah semakin jauh letak suatu negara khatulistiwa, semakin cepat orang di negara tersebut berjalan. Logikanya, semakin jauh dari kahtulistiwa maka negara tersebut pasti dingin sehingga orang akan berjalan lebih cepat supaya tidak kedinginan. Perhatikan orang Indonesia, mana ada orang yang berjalan cepat?”

Ada banyak kisah menarik yang dituturkan dengan gaya bahasa yang santai dan ringan oleh Trinity dalam buku ini. Lucu, sedih, mendebarkan, bahkan menyebalkan. Semua itu menjadi bumbu sedap dalam pengalamannya menjadi ‘Backpacker’ yang melanglang buana ke berbagai tempat, baik di dalam maupun diluar negeri.

Membaca buku ini, kita akan memperoleh bermacam informasi tentang kebudayaan berbagai bangsa yang unik, tempat-tempat yang "harus" dikunjungi atau dihindari, serta tips dan trik saat travelling ke sebuah negeri. Pada akhirnya, setelah menutup buku ini, bisa jadi kita semakin mencintai negeri sendiri.
Happy Traveling!

 (^^)

Saya masih benar-benar ingat, momen ketika memutuskan membeli buku ini. Sekitar pertengahan tahun lalu, sebelum saya menceburkan diri dalam sebuah petualangan nekat –kalau tidak dibilang gila– mengelilingi Pulau Jawa seorang diri dengan bermodal minim. Niatan awalnya hanya sekedar membeli untuk menemani perjalanan. Karena saya kira dengan membeli karya Trinity ini, semangat traveling saya dapat terus terjaga. Secara, membaca kisah-kisah petualangan dari para senior backpacker, kan bisa memicu semangat untuk melakukan hal-hal yang serupa. Eh, ternyata hingga perjalanan usai, saya masih belum kelar menamatkannya. Bahkan, hingga setahun kemudian saya juga tetap belum selesai membaca. Keberadaannya sering tergantikan seiring bertambahnya tinggi timbunan saya. Hingga, beberapa hari yang lalu saya mengambil kembali buku ini, dan bertekad harus merampungkannya apapun yang terjadi *ngencangin ikat kepala*. Alhamdulillah, selang 3 hari kemudian tujuan itu tercapai. Menimbulkan sedikit penyesalan dalam diri saya, ‘Kok gak dari dulu saya tamatin buku ini?’. Tapi udahlah, saya tetap senang kok pada akhirnya masih bisa merampungkan bacaan satu ini (meski telat…x_x)

Selera humor Trinity yang dituangkan dalam tulisan buku ini menimbulkan sensasi menarik diantara setiap kisah petualangannya. Sama sekali tak terkesan menggurui. Bagi saya, Trinity hanya sekedar ingin sharing pengalaman dengan para pembacanya. Berbagi cerita-cerita menarik saat bersua dengan orang-orang dan kebudayaan asing. Tak jarang membuat saya ngakak gak karuan di tengah-tengah asyik membaca. 

Dalam The Naked Traveler 1, Trinity memutuskan untuk bercerita secara random pengalaman-pengalamanya ketika melanglang buana ke belahan dunia bumi lain. Tidak lantas terfokus dengan  beberapa negara yang dilewatinya dalam satu kurun waktu saja. Mungkin salah satu penyebanya karena penulis telah melakukan begitu banyak traveling berdurasi singkat dalam waktu berpuluh-puluh tahun. Terlalu sulit bukan untuk mengumpulkan ingatan mengenai pengalaman unik bertahun-tahun lalu? Dan menurut saya, pemilihan gaya seperti itu menyimpan beberapa kelebihan. Seperti, cerita-cerita yang dipublikasikan pastinya merupakan yang terbaik, terunik, terlucu, dan tidak terlupakan. Sehingga benak pembaca tak perlu direcoki dengan pengalaman-pengalaman mainstream nan membosankan. 

Buku ini juga banyak menampilkan tips & tricks handal seputar dunia traveling bagi para pembacanya. Pastinya bermanfaat mengingat dalam backpacker pengalaman dan intuisi adalah segalanya. Setidaknya, tips & tricks dari Trinity ini dapat membantu kita agar tak terjerumus ke lubang permasalahan yang sama, sekaligus meminimalisir kekagetan kita saat menemui hal-hal serupa.

Saya akui jika buku berisi petualangan Trinity ini memang luar biasa menarik. Tapi masih ada beberapa kekurangan yang menjadi catatan tersendiri bagi saya. Setelah kelar membaca, saya lantas bertanya-tanya apa tujuan sebenarnya dari seorang Trinity ketika memutuskan bertualang ke suatu tempat. Sekedar having fun semata? Atau mengamati kehidupan masyarakat luar Jakarta? Atau apa? Karena yang saya dapatkan setelah menutup buku ini hanyalah cerita-cerita unik seputar perjalanannya. Memang menghibur. Memang lucu. Namun tidak ada pelajaran-pelajaran moral yang akan menambah pemahaman kita akan hakikat traveling itu sendiri. Tidak ada hikmah yang akan merubah cara pandang kita terhadap negara ini. Tidak ada pesan-pesan pembaharuan yang cukup bagus untuk diterapkan bersama demi kemajuan bangsa kita. Bahasa sederhananya: kurang filosofis, kurang mendalami makna perjalanan yang dilalui.

Selain itu, saya juga kurang sependapat dengan beberapa perilaku Trinity. Salah satu contoh ialah kebiasaannya merokok. Bukan karena dia wanita, karena percayalah, saya benci mati dengan semua perokok baik laki-laki maupun perempuan. Merokok jelas membahayakan kesehatan, dan saya kurang setuju apabila Trinity lantas mengumbar –secara tidak langsung juga menyarankan– hobi merokonya tersebut di hadapan para pembaca. Contoh lain yang saya kurang sependapat ialah kebiasaan-kebiasaan hedonis sang penulis seperti nongkrong di pub, club, diskotek, –atau apalah namanya–, lantas bermabuk-mabukkan hingga dini hari. Bagi saya perbuatan tersebut termasuk menghambur-hamburkan uang secara berlebihan. Rasanya lebih bijak apabila menggunakannya untuk kegiatan-kegiatan sosial atau kebaikan-kebaikan bermanfaat lainnya.

Terlepas dari itu semua, saya tetap salut kok dengan keberadaan buku ini. Saya salut dengan keberanian Trinity sebagai solo traveler dalam menjelajahi berbagai negara. Lebih-lebih ketika mengingat dirinya merupakan seorang perempuan. At last, buku ini saya rekomendasikan kepada teman-teman yang sedang atau hendak menempuh perjalanan sebagai tambahan motivator semangat. Juga turut saya rekomendasikan kepada orang-orang yang ingin mengenal lebih jauh aroma-aroma petualangan dalam dunia traveling. Tertarik membaca, gak?^^ 

Senin, 30 Juni 2014

[Book Review] CODEX: Seberbahaya Apa Makanan Kita?

Judul: Codex
Penulis: Rizki Ridyasmara
Penerbit: Salsabila (Pustaka Kautsar)
Tahun Terbit: Nopember 2010 (Cetakan Kedua)
Tebal: 434 Halaman
ISBN: 978-979-19163-5-6
 Harga: Rp 45.000,-
Bintang: ★★★★


Que sera sera! Apa yang akan terjadi, maka terjadilah!” (hal.60)

Sebuah microchip berisi data-data rahasia milik CIA dan Pentagon menyeret seorang saintis Italia bernama Alda Adriana dalam alur konspirasi yang pelik nan berbahaya. Bersama George Marshall, mantan suami Alda sekaligus pensiunan pasukan elit Australia, keduanya berusaha melarikan diri dari orang-orang yang memburu mereka. Dalam pelarian mereka tersadar bahwa microchip yang mereka bawa bukan sekedar berisi informasi-informasi intelijen biasa. Ternyata, benda tersebut menyembunyikan berbagai kebusukan negara maju yang berusaha meracuni umat manusia secara perlahan melalui perantara makanan yang dikonsumsi. Semua itu dilakukan dengan dalih mengendalikan populasi umat manusia agar senantiasa selaras dengan kapasitas bumi. 

Apa yang dilakukan Alda dan George jelas telah membuat musuh mereka kebakaran jenggot. Pembunuh-pembunuh terbaik dari mafia La Camorra, mafia La Cosa Nostra, hingga CIA, diutus demi merebut kembali microchip tersebut sekaligus memastikan kematian keduanya. Sanggupkah mereka berdua bertahan dari kejaran dan menyebarkan informasi penting itu ke seluruh penjuru dunia? Novel yang akan mengubah pandangan hidup Anda agar lebih sehat dan waspada! 

(^-^) 

Applaus untuk Rizki Ridyasmara! Beliau berhasil mengkolaborasikan secara apik fakta-fakta ilmiah yang ada dan mengemasnya dalam sebuah cerita penuh ketegangan. Perasaan jenuh yang acapkali melingkupi benak saya saat membaca jurnal-jurnal ilmiah menguap begitu saja ketika membaca novel satu ini. Ilmu dapat, hiburan juga dapat. Hehehe….Lumayan, kan?^^

Novel ini memuat berbagai hasil penelitian ilmiah yang sengaja ditutupi dari publik. Karena jelas, industri Amerika dan Eropa bisa bangkrut seketika, apabila informasi se-sensitif itu diketahui masyarakat umum. Seperti, tahukah Anda jika vaksin, obat-obatan medis, pelbagai makanan dan minuman, ternyata disusupi RACUN yang sengaja dibuat untuk membunuh kita? Tahukah Anda, untuk menipu konsumen, MSG punya 20 nama yang berbeda? Atau, tahukah Anda jika virus HIV sengaja diciptakan untuk memusnahkan etnis asli Afrika? Dan masih ada begitu banyak hal-hal mencengangkan lainnya yang diangkat di buku ini. Dijamin membuat mata Anda terbelalak –kecuali jika Anda telah mengetahui terlebih dahulu– saat menyadari betapa mengerikannya bahan-bahan penyusun makanan yang selama ini akrab di keseharian kita. Semua itu dilengkapi dengan sumber-sumber terpecaya yang dapat ditelusuri kebenarannya melalui berbagai catatan kaki yang ada.  

Di samping itu, petualangan Alda dan George selama berada dalam kejaran juga patut untuk diberi applaus. Mulai dari butik-butik di Milan, lalu beranjak ke Kota Terapung Venesia,  kemudian ke villa mewah Profesor Contrado di Parma, hingga ‘pertarungan’ terakhir di San Marino. Semuanya dapat digambarkan dengan begitu jelas. Seakan-akan penulis memang turut terlibat langsung dalam setiap kejadiannya. Belum lagi berbagai rincian senjata-senjata dalam novel yang membantu para pembaca dalam memahami kondisi lapangan di setiap konflik. 

Satu catatan yang agak menganggu benak saya ialah, mengapa chip sepenting itu bisa melanglangbuana dari Langley, markas CIA, hingga sampai ke Italia? Harusnya kan, dokumen sepenting itu tidak diizinkan untuk dibawa keluar kantor. Bagaimana bisa CIA kecolongan dengan sebegitu mudah? Dan bagaimana detail kejadian sesungguhnya yang menimpa pemegang chip sebelum Alda Adriana? 

Pertanyaan di atas memang lumayan mengusik, namun terlepas dari itu, novel ini tetap saja berhasil memukau diri saya dengan berbagai pengetahuan dan petualangannya. Membuka cakrawala wawasan saya tentang betapa nyatanya program de-population manusia yang terjadi di sekitar saya. Juga membantu saya agar lebih berusaha keras dalam menciptakan kehidupan yang sehat sekaligus aman tentunya. Sekali lagi, applaus untuk Rizki Ridyasmara!


Selasa, 17 Juni 2014

[BOOK REVIEW] GARUDA 5 UTUSAN IBLIS

Judul: Garuda 5 Utusan Iblis
Penulis: FA Purawan
Penerbit: Tiga Kelana
Tahun Terbit: 2009
Tebal: 702 Halaman
ISBN: 978-602-8535-22-9
Harga: Rp 99.000,-
Bintang: ★★★★



Di antara sedemikian banyak citra yang menyesakkan mata, masihkah penglihatan patut diandalkan? Di antara suara-suara gaduh memenuhi cakrawala, masihkah pendengaran memegang arah? Tanpa mata, tanpa telinga, tinggallah kalbu. Kalbu menjadi mata yang melihat apa yang tak terlihat, dan menjadi telinga yang mendengar apa yang harus terdengar.” (hal. 682)

Adalah Jaka, sang ketua OSIS SMA Raya, yang terpilih menjadi pemimpin Pasukan Garuda di masa kini. Bersama keempat kompatriotnya, dia dibebani kewajiban mencegah kedatangan utusan Iblis yang mampir ke bumi setiap 666 tahun sekali. Terdengar mudah sekaligus sederhana, jika saja urusan satu ini tak melibatkan satu kerajaan penuh berisi kaum lelembut, orang-orang penganut aliran hitam, hingga nyawa teman-teman SMA mereka yang secara tidak sengaja ikut terseret. Lewat kelebatan mimpi yang menghiasi tidur setiap malamnya, mereka digembleng oleh para leluhur yang juga merupakan Pasukan Garuda di masa lampau. Mulai dari  pemahaman-pemahaman terperinci akan detik-detik kedatangan makhluk laknat dari Neraka itu dalam siklus sebelumnya, sampai berbagai teknik kanuragan yang bisa membuat mereka menjadi jagoan kungfu dalam tempo semalam. Semuanya demi mempersiapkan mereka tepat pada waktunya. Sanggupkah mereka?

Sayangnya, musuh mereka juga sudah berbenah semenjak kegagalan 666 tahun silam. Skenario balas dendam yang tersusun amat rapi, siap digelar kapan pun tiba waktunya. Demi memuluskan ambisi serakah untuk menguasai dunia lewat kesaktian sang utusan Iblis, mereka rela menanti dengan begitu sabar siklus berikutnya, sembari mengawasi lekat-lekat keturunan para pendekar Pasukan Garuda yang akan menjadi pengganjal di kemudian hari. Sebuah kisah yang membangkitkan kembali euforia akan kehebatan dunia persilatan Indonesia yang dipoles dengan kehidupan penuh romansa ABG masa kini, :)

(^-^)
Saya hanya bisa teriak gak karuan saat satu-persatu kotak pandora konflik terbuka. Sama sekali gak menyangka akan ada pimpinan musuh yang menjelma sebagai penyusup dalam Pasukan Garuda. Alur plot yang susah ditebak, juga sering membuat saya tergoda untuk loncat ke bagian akhir, saking penasarannya. Belum lagi, pengembangan karakter tokoh yang sempat membuat saya kecele dalam menjatuhkan ‘vonis’. Seperti saat saya menebak, jika Johannes Pasaribu itu merupakan bagian dari kaum lelembut. Eh, ternyata di bagian akhir si doi malah nongol sebagai salah satu punggawa Garuda Five (nama beken Pasukan Garuda). Gregetan, kan?

Tapi disitulah bagian serunya, sob. Ketika pembaca tidak terlalu cerdas dalam menebak-nebak alur cerita yang dibaca. Malah, menurut saya, bacaan novel itu jadi gak seru saat keseluruhan cerita udah ketebak semenjak awal. Terlalu mainstream. Nah, buku ini lain. Apalagi dibumbui dengan kisah roman picisan ala remaja SMA. Mulai dari cinta segitiga Ratih-Jaka-Prasti, sampai cinta gak nyambung antara Jo yang notabene kalem dengan Siska, pentolan bagian keamanan OSIS SMA Raya. Kisah-kisah tersebut menjadi penurun ketegangan yang emang sewajarnya terjadi dalam novel silat semacam Garuda 5 ini.

Pesan-pesan moral yang ada dalam bacaan ini juga lumayan mengena terhadap realita zaman yang ada pada saat ini. Seperti tawuran antar pelajar, esensi sebuah doa yang semakin tergerus zaman, hingga makna sejati sebuah persahabatan. Saya jadi teringat, catatan-catatan kaki berisi sudut pandang penulis terhadap suatu permasalahan yang ada di sana. Tidak terkesan menggurui meski terkesan sedikit  jayus. Dalam artian, masa lagi seru-seru ngikutin pertarungan yang ada, tiba-tiba kita direcoki dengan catatan-catatan kaki berisi pesan moral dari penulis?

Satu catatan lagi. Entah mengapa saya merasa bahwa buku ini belum memberikan resolusi akhir yang cukup memuaskan pembaca. Terkesan ‘gantung’. Persaingan cinta antara Ratih-Jaka-Prasti dibiarkan berakhir tanpa penyelesaian. Nasib Pasukan Garuda sesudahnya  juga terancam tidak jelas. Apakah melanjutkan kehidupan remaja seperti biasanya, atau akan muncul musuh-musuh lainnya. Saya jadi berpikir, bakalan ada sekuel kedua novel ini. Secara, saya emang pecinta happy ending gitu sih.^^

Tapi, secara keseluruhan semuanya oke kok. Malah saya sempat menyesal, kenapa gak baca ulang sebelum ‘dijarah’ teman-teman. Itu juga yang menjadi alasan saya untuk menyematkan 4 dari 5 bintang yang ada. Recommended benget, deh!