Penulis: Trinity
Penerbit: c | Publishing (Bentang Pustaka)
Tahun Terbit: Januari 2012 (Cetakan ke-21)
Tebal: 282 Halaman
ISBN:
978-979-24-3963-6
Harga: Rp 44.500,-
Bintang: ★★★★
“Teori-teorian bodoh yang saya simpulkan sendiri dari hasil pengamatan selama traveling adalah semakin jauh letak suatu negara khatulistiwa, semakin cepat orang di negara tersebut berjalan. Logikanya, semakin jauh dari kahtulistiwa maka negara tersebut pasti dingin sehingga orang akan berjalan lebih cepat supaya tidak kedinginan. Perhatikan orang Indonesia, mana ada orang yang berjalan cepat?”
Ada banyak kisah menarik yang dituturkan dengan gaya bahasa yang
santai dan ringan oleh Trinity dalam buku ini. Lucu, sedih, mendebarkan, bahkan
menyebalkan. Semua itu menjadi bumbu sedap dalam pengalamannya menjadi ‘Backpacker’
yang melanglang buana ke berbagai tempat, baik di dalam maupun diluar negeri.
Membaca buku ini, kita akan memperoleh bermacam informasi tentang
kebudayaan berbagai bangsa yang unik, tempat-tempat yang "harus"
dikunjungi atau dihindari, serta tips dan trik saat travelling ke sebuah
negeri. Pada akhirnya, setelah menutup buku ini, bisa jadi kita semakin
mencintai negeri sendiri.
Happy Traveling!
(^^)
Saya masih benar-benar ingat, momen ketika memutuskan membeli buku
ini. Sekitar pertengahan tahun lalu, sebelum saya menceburkan diri dalam sebuah
petualangan nekat –kalau tidak dibilang gila– mengelilingi Pulau Jawa seorang
diri dengan bermodal minim. Niatan awalnya hanya sekedar membeli untuk menemani
perjalanan. Karena saya kira dengan membeli karya Trinity ini, semangat traveling
saya dapat terus terjaga. Secara, membaca kisah-kisah petualangan dari para
senior backpacker, kan bisa memicu semangat untuk melakukan
hal-hal yang serupa. Eh, ternyata hingga perjalanan usai, saya masih belum
kelar menamatkannya. Bahkan, hingga setahun kemudian saya juga tetap belum
selesai membaca. Keberadaannya sering tergantikan seiring bertambahnya tinggi
timbunan saya. Hingga, beberapa hari yang lalu saya mengambil kembali buku ini,
dan bertekad harus merampungkannya apapun yang terjadi *ngencangin ikat
kepala*. Alhamdulillah, selang 3 hari kemudian tujuan itu tercapai.
Menimbulkan sedikit penyesalan dalam diri saya, ‘Kok gak dari dulu saya
tamatin buku ini?’. Tapi udahlah, saya tetap senang kok pada akhirnya masih
bisa merampungkan bacaan satu ini (meski telat…x_x)
Selera humor Trinity yang dituangkan dalam tulisan buku ini menimbulkan
sensasi menarik diantara setiap kisah petualangannya. Sama sekali tak terkesan
menggurui. Bagi saya, Trinity hanya sekedar ingin sharing pengalaman
dengan para pembacanya. Berbagi cerita-cerita menarik saat bersua dengan
orang-orang dan kebudayaan asing. Tak jarang membuat saya ngakak gak karuan di
tengah-tengah asyik membaca.
Dalam The Naked Traveler 1, Trinity memutuskan untuk
bercerita secara random pengalaman-pengalamanya ketika melanglang buana
ke belahan dunia bumi lain. Tidak lantas terfokus dengan beberapa negara yang dilewatinya dalam satu
kurun waktu saja. Mungkin salah satu penyebanya karena penulis telah melakukan
begitu banyak traveling berdurasi singkat dalam waktu berpuluh-puluh
tahun. Terlalu sulit bukan untuk mengumpulkan ingatan mengenai pengalaman unik
bertahun-tahun lalu? Dan menurut saya, pemilihan gaya seperti itu menyimpan
beberapa kelebihan. Seperti, cerita-cerita yang dipublikasikan pastinya
merupakan yang terbaik, terunik, terlucu, dan tidak terlupakan. Sehingga benak
pembaca tak perlu direcoki dengan pengalaman-pengalaman mainstream nan
membosankan.
Buku ini juga banyak menampilkan tips & tricks handal seputar
dunia traveling bagi para pembacanya. Pastinya bermanfaat mengingat
dalam backpacker pengalaman dan intuisi adalah segalanya. Setidaknya,
tips & tricks dari Trinity ini dapat membantu kita agar tak terjerumus ke
lubang permasalahan yang sama, sekaligus meminimalisir kekagetan kita saat
menemui hal-hal serupa.
Saya akui jika buku berisi petualangan Trinity ini memang luar
biasa menarik. Tapi masih ada beberapa kekurangan yang menjadi catatan
tersendiri bagi saya. Setelah kelar membaca, saya lantas bertanya-tanya apa tujuan
sebenarnya dari seorang Trinity ketika memutuskan bertualang ke suatu tempat. Sekedar
having fun semata? Atau mengamati kehidupan masyarakat luar Jakarta?
Atau apa? Karena yang saya dapatkan setelah menutup buku ini hanyalah
cerita-cerita unik seputar perjalanannya. Memang menghibur. Memang lucu. Namun tidak
ada pelajaran-pelajaran moral yang akan menambah pemahaman kita akan hakikat traveling
itu sendiri. Tidak ada hikmah yang akan merubah cara pandang kita terhadap
negara ini. Tidak ada pesan-pesan pembaharuan yang cukup bagus untuk diterapkan
bersama demi kemajuan bangsa kita. Bahasa sederhananya: kurang filosofis,
kurang mendalami makna perjalanan yang dilalui.
Selain itu, saya juga kurang sependapat dengan beberapa perilaku
Trinity. Salah satu contoh ialah kebiasaannya merokok. Bukan karena dia wanita,
karena percayalah, saya benci mati dengan semua perokok baik laki-laki maupun
perempuan. Merokok jelas membahayakan kesehatan, dan saya kurang setuju apabila
Trinity lantas mengumbar –secara tidak langsung juga menyarankan– hobi
merokonya tersebut di hadapan para pembaca. Contoh lain yang saya kurang
sependapat ialah kebiasaan-kebiasaan hedonis sang penulis seperti nongkrong di
pub, club, diskotek, –atau apalah namanya–, lantas bermabuk-mabukkan hingga
dini hari. Bagi saya perbuatan tersebut termasuk menghambur-hamburkan uang
secara berlebihan. Rasanya lebih bijak apabila menggunakannya untuk
kegiatan-kegiatan sosial atau kebaikan-kebaikan bermanfaat lainnya.
Terlepas dari itu semua, saya tetap salut kok dengan keberadaan
buku ini. Saya salut dengan keberanian Trinity sebagai solo traveler
dalam menjelajahi berbagai negara. Lebih-lebih ketika mengingat dirinya merupakan
seorang perempuan. At last, buku ini saya rekomendasikan kepada
teman-teman yang sedang atau hendak menempuh perjalanan sebagai tambahan
motivator semangat. Juga turut saya rekomendasikan kepada orang-orang yang
ingin mengenal lebih jauh aroma-aroma petualangan dalam dunia traveling.
Tertarik membaca, gak?^^
0 komentar:
Posting Komentar