Tampilkan postingan dengan label New Author Reading Challenge 2014. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label New Author Reading Challenge 2014. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Juli 2014

[Book Review] ARTEMIS FOWL: Manusia Jenius vs Kaum Mutakhir

Judul: Artemis Fowl
Penulis: Eoin Colfer
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Mei 2005 (Cetakan Dua)
Tebal: 336 Halaman
ISBN: 979-22-0961-1
 Harga: Rp 40.000,-
Bintang: ★★★★★


“If I win, I'm a prodigy. If I lose, then I'm crazy. That's the way history is written.”

Rencana Artemis Fowl jelas bukan sembarang rencana. Ia berambisi untuk memulihkan kembali kejayaan keluarga yang semakin menyusut semenjak kematian ayahanya. Dan hanya ada satu solusi singkat untuk itu: mencuri. Bukan sekedar merampok atau mencuri bank biasa. Karena percayalah, itu terlalu mudah bagi kejeniusan otaknya. Lagipula, hasil ‘pekerjaan’ itu masih terlalu sedikit untuk bisa menggenapi tujuan Artemis. Tidak, tidak, tidak. Ia akan menyiapkan rencana yang jauh lebih brilian. Ia berencana mencuri emas kaum peri!  

Benarkah kehidupan peri itu nyata adanya? Artemis Fowl terlalu cerdas untuk sekedar terjebak dalam pertanyaan bodoh semacam itu. Ia dan Butler –pengawal yang lebih cocok terlihat sebagai ayahnya- telah menginjakkan kaki di empat benua berbeda demi mengendus informasi terpercaya mengenai keberadaan para peri. Semua mengecewakan, kecuali satu: Ho Chi Minh City, Vietnam. 

Oh kawan, Anda salah besar jika menganggap para peri akan memberikan begitu saja emas mereka seperti dalam berbagai dongeng klasik. Nyatanya, peri-peri yang dihadapi Artemis Fowl merupakan sekumpulan masyarakat berteknologi mutakhir. Peradaban mereka jauh di atas manusia. Mereka berbahaya dan bersenjata. Dan yang terpenting, mereka bersedia melakukan apa saja untuk membebaskan kawan mereka yang ditawan oleh Artemis Fowl.

Namun ingat ini baik-baik, Artemis Fowl memang baru berusia 12 tahun. Tapi ia sudah bertekad akan menjadi pencuri emas lintas spesies pertama yang ada. Dan sangat jarang, bahkan hampir tidak pernah, kegagalan menghalangi seorang Artemis dari mewujudkan tekadnya itu, sesulit apapun rintangan yang menghadang. Jadi, siapa yang akan menang? Si manusia jenius atau makhluk berperadaban mutakhir?

(^^)

Sempurna.

Itu kesan pertama kali yang saya dapati seusai rampung membaca novel ini. Eoin Colfer berhasil menghadirkan sebuah alur cerita yang menarik dan di luar dugaan. Kehidupan para peri, yang biasa dikaitkan dengan dongeng klasik ala Walt Disney, berhasil dipermak menjadi sebuah kaum berperadaban luar biasa modern. Bahkan jauh meninggalkan peradaban manusia 100 tahun di belakang. Disebutkan, mereka telah menguasai teknologi dari berbagai senjata yang selama ini menjadi mimpi penghias tidur manusia. Mulai perisai yang membuat mereka tersamarkan dari mata telanjang, medan waktu yang sanggup mengisolasi suatu daerah selama 8 jam, senapan-senapan kejut bertenaga baterai mini nuklir, hingga bom biologi yang hanya akan membunuh makluk hidup tanpa merusak properti lain sedikitpun. Ini menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka yang mendambakan sebuah penyegaran dalam kisah-kisah para peri. 

Artemis Fowl, meskipun dimunculkan sebagai tokoh antagonis, berhasil menjadi pusat cerita yang cukup unik. Bisa dibilang ia meruapakan versi modern dari Sherlock Holmes dan Profesor Moriety yang digabungkan dalam satu tubuh. Kejeniusannya membuat ia senantiasa berada satu langkah di depan lawan. Ibarat permainan catur, maka Artemis Fowl memainkan bidak putih sekaligus bidak hitam secara bersamaan. Musuhnya –dalam hal ini berarti kaum peri-hanya bisa mengikuti arus permainan yang telah diprediksi oleh Artemis jauh-jauh hari. 

Namun, satu hal yang saya salut, Eoin Colfer tidak melupakan begitu saja sisi kanak-kanak dari seorang Artemis Fowl. Sejenius apapun dia, Artemis tetap saja masih berusia 12 tahun. Ada beberapa bagian di novel ini yang menunjukkan secara jelas akan hal itu. Seperti saat Artemis merindukan ayahnya yang tak kunjung ditemukan setelah kecelakaan kapalnya. Atau ketika Artemis begitu khawatir dengan kondisi ibunya yang semakin labil semenjak sang suami hilang. Atau pula saat Artemis merasa kesepian akibat kurangnya asupan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Dan masih banyak lagi. Itu semua menumbuhkan nilai moral bagi pembaca bahwa masa kanak-kanak tetaplah merupakan masa kanak-kanak. Seberapa kuat, jenius, hebat, kaya seorang anak, tetap saja dia masih membutuhkan belaian kasih sayang dari orang tuanya. ^^

Semua perpaduan itu –tentunya masih ditambah dengan beberapa aspek yang tak saya sebutkan secara spesifik di review ini- membuat saya berani mengatakan bahwa novel ini begitu sempurna. Begitu seimbang. Begitu menghibur. Sekaligus begitu menegangkan. Five Stars, guys!




















Jumat, 11 Juli 2014

[Book Review] H.I.V.E (1): Higher Institute of Villainous Education

Judul: H.I.V.E: Higher Institute of Villainous Education
Penulis: Mark Walden
Penerbit: Mizan
Tahun Terbit: Maret 2014 (Cetakan Kedua)
Tebal: 394 Halaman
ISBN: 978-979-433-713-4
 Harga: Rp 59.000,-
Bintang: ★★★★


I'm sure that there must have been times when you have read books or watched films and found yourself secretly wishing for the villain to win. Why? Isn't that against the rules by which our society lives? Why should you feel this way? It's simple, really; the villain is the true hero of these tales, not the well-intentioned moron who somehow foils their diabolical scheme. The villain get's all the best lines, has the best costumes, has unlimited power and wealth- why on earth would anyone not want to be the villain?

Sekolah penjahat? Serius ada, nih? Yup! Higher Institute of Villainous Education (H.I.V.E) adalah sekolah yang khusus diperuntukkan bagi bakat-bakat alami penjahat dunia. Mereka diseleksi dengan sedemikian ketat, lalu dibawa secara paksa (baca: diculik) ke fasilitas H.I.V.E yang terletak dalam sebuah gunung berapi aktif di pulau terpencil di tengah lautan antah-berantah. Disana mereka akan dibekali lebih lanjut dengan berbagai pelatihan yang akan bermanfaat dalam karir kejahatan mereka di masa mendatang. 

Tertarik? Otto Malpense jelas tidak. Dipaksa tinggal selama 6 tahun untuk mempelajari keahlian-keahlian yang telah dikuasai semanjak kecil, jelas merupakan suatu kesia-siaan baginya. Jangan salah, di usia semuda itu, Otto sudah pernah menggulingkan satu pemerintahan sah dengan cara yang tak akan pernah bisa dibayangkan oleh orang dewasa manapun. Dia bukan hanya jenius, melainkan super-super-super-jenius! Otaknya seperti spons yang mampu menyerap berbagai pengetahuan dari buku-buku setebal ratusan halaman secara singkat. Maka, hanya ada satu hal yang dipikirkan Otto semenjak menginjakkan kaki di H.I.V.E: Kabur!
(^^)

Awalnya, saya skeptis dengan buku satu ini. Karena di front cover-nya terpampang tulisan, ‘Hogwarts untuk penjahat…namun tanpa sihir’. Membaca kata ‘Hogwarts’ membuat benak saya terpacu ke kenangan akan Harry Potter series. Jadilah, saya mengira novel ini adalah bacaan yang memanfaatkan ketenaran karya J.K Rowling itu untuk membangun citra di mata pembaca. Eh, ternyata salah besar. *tutup muka pake sarung*

Memang, ada beberapa aspek yang lumayan serupa dengan buku Harry Potter. Dua diantaranya ialah konsep kehidupan Otto dan kawan-kawan yang terfokus di H.I.V.E (kalau Harry di Hogwarts) dan pembagian bakat siswa H.I.V.E yang dibedakan menjadi 4 kelas dari Alpha, Henchman, Teknik, dan Politik/Ekonomi (di Harry Potter juga ada 4: Gryffindor, Hufflepuff, Ravenclaw, dan Slytherin). Namun cuma sampai disitu persamaan diantara keduanya. Selanjutnya, cerita berkembang menurut jalurnya sendiri-sendiri. Harry Potter serius mempersiapkan dirinya guna melawan Voldemort, sedang Otto Malpense fokus pada aksi ‘gila’-nya untuk kabur dari H.I.V.E.

Novel ini termasuk salah satu karya yang mengambil sudut pandang pelaku utama sebagai penjahat. Karena H.I.V.E adalah sekolah para penjahat terbaik di dunia sekaligus komponen dari organisasi kejahatan terbesar di dunia bernama G.L.O.V.E, sedang Otto Malpense merupakan satu bagian dari itu semua. Nah, terkadang di tengah-tengah keasyikan membacanya, saya lantas mencoba mendefinisikan ulang arti dari kata kejahatan. Menilai-nilai apakah yang dilakukan Otto saat memanipulasi beberapa kontraktor demi memperbaiki panti asuhannya termasuk sebuah kejahatan meski bertujuan baik? Menimbang apakah yang dilakukan Dr.Nero dengan mengurung semua siswa selama 6 tahun tanpa diperbolehkan bertemu dengan sanak famili di luar termasuk kebaikan yang dipaksakan atau bukan. Lantas, kabur dari hal semacam itu meski dilandasi dengan tujuan yang kurang tepat (karena Otto merasa bisa melakukan hal-hal yang lebih jahat di luar sana) juga lantas disebut sebagai kejahatan? 

Anggapan seperti di atas tadi menimbulkan warna abu-abu dalam menentukan mana tokoh protagonis dan mana tokoh antagonis. Semua lakon bisa saja menjadi keduanya tergantung dari sudut mana kita menilainya. Otto, meskipun dia lakon utama, bisa berada di pihak jahat saat ia menggulingkan perdana menteri negaranya dengan cara yang bisa dibilang cukup ‘keji’. Sebaliknya, kepedulian dia dalam menyelamatkan sekolah di bagian akhir novel juga dapat menggolongkannya sebagai tokoh protagonis, lho. Demikian pula dengan karakter abu-abu lainnya semacam Raven, Dr.Nero, dll. Bingung? Pastinya. Tapi mustahil Anda akan memikirkan detail semacam ini saat sedang asyik menikmati aliran alurnya, bukan? 

Secara keseluruhan saya tetap senang menikmati cerita dari novel ini, kok. Meski ending-nya sedikit menyimpang dari tujuan Otto semula, tetap saja novel ini berhasil menghadirkan ketegangan-ketegangan yang membuat pembaca semakin antusias. Rekomendasi bagi Anda yang menyukai cerita-cerita melarikan diri dari lokasi berpengaman ketat layaknya film ‘Escape Plan’ baru-baru ini! Empat bintang buat H.I.V.E 1 ini!

Kamis, 03 Juli 2014

[Book Review] PACARKU JUNIORKU

Judul: Pacarku Juniorku
Penulis: Valleria Verawati
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Agustus 2007
Tebal: 208 Halaman
ISBN:979-22-3153-6
 Harga: Rp 29.000,-
Bintang: ★★★


 Jika seseorang yang Oom percaya dan cintai mengkhianati Oom, apa yang akan Oom lakukan?”
“Tentu saja Oom akan marah,” jawab Oom Frans. “Tapi dalam cinta selalu ada maaf yang tiada batasnya. Dan itu pula yang akan Oom lakukan.” (Hal 84)

Galak, judes, ceplas-ceplos, tapi bisa jadi Ketua OSIS. Itulah Bia. Di tahun ketiganya di SMA Constantine 4 dia bertemu dengan Juventus Egi, siswa baru yang kebetulan di-MOS-i oleh Bia dan teman-temannya. Di pertemuan-pertemuan awal, Bia udah benci setengah ampun dengan anak ini. Satu, karena Egi itu unik sekaligus aneh. Dua, dia memiliki kecenderungan untuk melawan perintah seniornya. Tiga, tampang innocent-nya yang bikin orang-orang di sekelilingnya ngakak gak karuan pas ngliatnya. Empat, dan ini yang paling buat Bia kesal, ialah karena Egi berani mengutarakan cintanya kepada sang Ketua OSIS di hadapan seluruh penghuni sekolah! Bukan cuma sekali, tapi berkali-kali!  

Padahal, Bia itu anti banget dengan yang namanya cowok. Buat dia, semua cowok itu gak punya komitmen yang pantas. Habis sepah manis dibuang. Bosan di satu tempat, tinggal minggat begitu aja. Pengalaman Ibunya yang pernah ditelantarkan suaminya –sekaligus bapak Bia- membuat Bia paham betul dengan sifat bejat laki-laki. 

Tau-tau si Egi nongol dalam kehidupan damai Bia! Meski udah ditolak berkali-kali dengan penuh judes, si doi tetap aja gak menyerah. Egi tetap yakin, bahwa suatu saat nanti dia akan mampu meluruhkan hati Bia. Hadeh, emang urat sabar tuh anak setebal apa sih?

(^^)

Ini novel pertama yang berhasil saya tamatkan dalam kurun waktu 1,5 jam. Sungguh! Merelakan waktu tidur alias begadang hingga jauh melewati pertengahan malam. Walau saya akui, bila keesokan harinya saya harus recovery selama 3 jam lebih, -_-. (*tepok jidat)

Gaya bercerita yang super teen-lit memudahkan saya dalam mencerna seluruh alur yang dihadirkan penulis (*secara, saya kan masih termasuk kawula brondong muda, gitu^^). Juga ada rasa humor yang begitu khas menghiasi di tiap lembaran bukunya. Bukan cuma muncul dari penggambaran penulis saja, namun juga berasal dari karakter tiap lakon yang terkesan ‘antik’. Egi dengan tampang blo’on-nya, celetukan-celetukan ringan Yuki, berikut kejudesan Bia saat berurusan dengan segala hal terkait Egi. Jadi bikin saya sering ketawa ngakak pas asyik-asyiknya baca. Padahal lagi tengah malam, tuh. Hahaha (bukan, saya bukan orang gilaaaa…-_-)

Kalau boleh, saya ingin menyuarakan dukungan untuk kejudesan Bia terhadap tindak-tanduk Egi yang saya nilai terlalu berlebihan. Bayangin aja si Egi bikin pertunjukan dangdut di lapangan sekolah, dengan ber-panggung-kan sebuah meja, ber-mik-an TOA, dan ditonton seisi sekolahan. Di akhir momen, dia lantas berlutut di hadapan Bia –tentunya masih disaksikan anak-anak dari kelas X hingga XII- meminta kesediaannya untuk menjadi pacar Egi. Iiiih, sontak aja Bia merasa jijik dengan itu semua. Termasuk saya yang membacanya. Mungkin karena saya bukan tipe-tipe orang yang terlalu romatis, sih. Menurut saya, masih ada beribu cara lain yang tentunya lebih elegan dalam melarutkan hati seorang wanita. Itu saya, lhooo…^^

Meskipun judulnya adalah Pacarku Juniorku, namun saya menangkap kesan jika cerita dalam novel ini tak hanya terfokus pada kisah cinta antara Bia dan Egi saja. Bahkan kalau dihitung-hitung, porsi keseluruhan cerita mengenai hal tersebut hanya 50-60% lah. Emosi pembaca akan lebih banyak diaduk-aduk saat melewati bagian dimana kehidupan keluarga Bia dibahas. Betapa ternyata kebencian Bia terhadap semua spesies laki-laki berawal dari trauma masa kecilnya saat ditinggal sang Papa, meninggalkan dia dan Ibunya, dan menyisakan gelar ‘Anak Haram’ hingga Bia dewasa sekalipun. Pokoknya, disitu rasa kepedulian kita terhadap anak-anak seperti Bia bakal tumbuh tanpa bisa ditahan, deh!

Novel ini saya rekomendasikan bagi mereka yang merasa jenuh terhadap kehidupan SMA-nya yang biasa-biasa saja, atau kepada mereka yang baru saja mengalami gangguan hubungan cinta, tanpa perlu merasa pusing dengan alur cerita buku yang dibaca. Saya jamin, ringan dan menghibur, kok!

Senin, 30 Juni 2014

[Book Review] CODEX: Seberbahaya Apa Makanan Kita?

Judul: Codex
Penulis: Rizki Ridyasmara
Penerbit: Salsabila (Pustaka Kautsar)
Tahun Terbit: Nopember 2010 (Cetakan Kedua)
Tebal: 434 Halaman
ISBN: 978-979-19163-5-6
 Harga: Rp 45.000,-
Bintang: ★★★★


Que sera sera! Apa yang akan terjadi, maka terjadilah!” (hal.60)

Sebuah microchip berisi data-data rahasia milik CIA dan Pentagon menyeret seorang saintis Italia bernama Alda Adriana dalam alur konspirasi yang pelik nan berbahaya. Bersama George Marshall, mantan suami Alda sekaligus pensiunan pasukan elit Australia, keduanya berusaha melarikan diri dari orang-orang yang memburu mereka. Dalam pelarian mereka tersadar bahwa microchip yang mereka bawa bukan sekedar berisi informasi-informasi intelijen biasa. Ternyata, benda tersebut menyembunyikan berbagai kebusukan negara maju yang berusaha meracuni umat manusia secara perlahan melalui perantara makanan yang dikonsumsi. Semua itu dilakukan dengan dalih mengendalikan populasi umat manusia agar senantiasa selaras dengan kapasitas bumi. 

Apa yang dilakukan Alda dan George jelas telah membuat musuh mereka kebakaran jenggot. Pembunuh-pembunuh terbaik dari mafia La Camorra, mafia La Cosa Nostra, hingga CIA, diutus demi merebut kembali microchip tersebut sekaligus memastikan kematian keduanya. Sanggupkah mereka berdua bertahan dari kejaran dan menyebarkan informasi penting itu ke seluruh penjuru dunia? Novel yang akan mengubah pandangan hidup Anda agar lebih sehat dan waspada! 

(^-^) 

Applaus untuk Rizki Ridyasmara! Beliau berhasil mengkolaborasikan secara apik fakta-fakta ilmiah yang ada dan mengemasnya dalam sebuah cerita penuh ketegangan. Perasaan jenuh yang acapkali melingkupi benak saya saat membaca jurnal-jurnal ilmiah menguap begitu saja ketika membaca novel satu ini. Ilmu dapat, hiburan juga dapat. Hehehe….Lumayan, kan?^^

Novel ini memuat berbagai hasil penelitian ilmiah yang sengaja ditutupi dari publik. Karena jelas, industri Amerika dan Eropa bisa bangkrut seketika, apabila informasi se-sensitif itu diketahui masyarakat umum. Seperti, tahukah Anda jika vaksin, obat-obatan medis, pelbagai makanan dan minuman, ternyata disusupi RACUN yang sengaja dibuat untuk membunuh kita? Tahukah Anda, untuk menipu konsumen, MSG punya 20 nama yang berbeda? Atau, tahukah Anda jika virus HIV sengaja diciptakan untuk memusnahkan etnis asli Afrika? Dan masih ada begitu banyak hal-hal mencengangkan lainnya yang diangkat di buku ini. Dijamin membuat mata Anda terbelalak –kecuali jika Anda telah mengetahui terlebih dahulu– saat menyadari betapa mengerikannya bahan-bahan penyusun makanan yang selama ini akrab di keseharian kita. Semua itu dilengkapi dengan sumber-sumber terpecaya yang dapat ditelusuri kebenarannya melalui berbagai catatan kaki yang ada.  

Di samping itu, petualangan Alda dan George selama berada dalam kejaran juga patut untuk diberi applaus. Mulai dari butik-butik di Milan, lalu beranjak ke Kota Terapung Venesia,  kemudian ke villa mewah Profesor Contrado di Parma, hingga ‘pertarungan’ terakhir di San Marino. Semuanya dapat digambarkan dengan begitu jelas. Seakan-akan penulis memang turut terlibat langsung dalam setiap kejadiannya. Belum lagi berbagai rincian senjata-senjata dalam novel yang membantu para pembaca dalam memahami kondisi lapangan di setiap konflik. 

Satu catatan yang agak menganggu benak saya ialah, mengapa chip sepenting itu bisa melanglangbuana dari Langley, markas CIA, hingga sampai ke Italia? Harusnya kan, dokumen sepenting itu tidak diizinkan untuk dibawa keluar kantor. Bagaimana bisa CIA kecolongan dengan sebegitu mudah? Dan bagaimana detail kejadian sesungguhnya yang menimpa pemegang chip sebelum Alda Adriana? 

Pertanyaan di atas memang lumayan mengusik, namun terlepas dari itu, novel ini tetap saja berhasil memukau diri saya dengan berbagai pengetahuan dan petualangannya. Membuka cakrawala wawasan saya tentang betapa nyatanya program de-population manusia yang terjadi di sekitar saya. Juga membantu saya agar lebih berusaha keras dalam menciptakan kehidupan yang sehat sekaligus aman tentunya. Sekali lagi, applaus untuk Rizki Ridyasmara!


Kamis, 26 Juni 2014

[BOOK REVIEW] RANAH SEMBILAN: Nolstalgia Kejayaan Dunia Silat

Judul: Ranah Sembilan
Penulis: Dewi Sartika
Penerbit: OASE
Tahun Terbit: 2008
Tebal: 248 Halaman
ISBN: 979-1167-15-X
Harga: Rp 29.500,-
Bintang: ★★


Cinta memang menyebalkan, tapi kita jadi bisa maklum atas semua tindakannya..” (hal.200)

Berkat sebuah kunci, Diana dan Lea terhempas ke sebuah dunia lain. Ranah Sembilan. Disana, hukum rimba yang berkuasa. Siapa yang kuat, maka dia akan menang. Yang lemah akan tergilas, dan berakhir sebagai budak, tawanan, atau bahkan seonggok mayat. Di tempat semacam itulah kedua anak perempuan itu terdampar. Beruntung, ketika keduanya sedang terkepung segerombolan perampok liar, sebelum keadaan bertambah fatal, seorang pendekar bernama Amon hadir menyelamatkan mereka. Dan setelah melalui proses negoisasi yang cukup rumit –sekaligus kocak–,Amon akhirnya bersedia untuk menemani perjalanan Diana dan Lea selama menjelajahi daratan Ranah Sembilan.
Berbagai hambatan dan rintangan mampu mereka atasi bersama. Namun, itu bukan berarti jika perjalanan mereka menjadi mudah begitu saja. Terbukti, pada satu titik mereka bertiga terpaksa berpisah. Diana jatuh ke dalam kegelapan jurang. Amon, yang ternyata merupakan salah satu dari kelima Dewa di Lembah Iblis, dipaksa pulang oleh pengawalnya demi menjalani pelatihan imdok (istilah untuk tenaga dalam) tingkat berikutnya. Sedang Lea harus terjebak dalam pengembaraan ‘gila’ bersama manusia berkepribadian ganda bernama Bixi, yang juga salah satu Dewa di Lembah Iblis. Semuanya menjalin janji untuk kembali bersua di tanah yang paling ditakuti di Ranah Sembilan: Lembah Iblis. Disana keadaan jauh lebih mencekam dan berbahaya. Betapa tidak! Lembah Iblis yang hanya terdiri dari satu perguruan, yaitu perguruan Langit, ternyata di masa lampau mampu mengimbangi kekuatan 8 perguruan lainnya dari seluruh penjuru Ranah Sembilan. Dan di tempat itu pula, kelima ‘dewa’ alias anak angkat Kaisar Langit (pemimpin perguruan Langit) ditempa secara khusus. Sanggupkah mereka?
(^-^)
Setelah usai ‘menghabisi’ kitab ini, saya jadi bertanya-tanya, apa sebenarnya tujuan yang harus dicapai para lakon dalam cerita bergenre silat fantasi ini? Sederhananya, ending semacam apa yang ingin diutarakan penulis dalam kisah ini? Bukan apa-apa, permasalahannya ada pada ending cerita yang terksesan diputus secara paksa. Seperti ketika Anda sedang asyik-asyiknya menyaksikan sebuah film, lalu tiba-tiba dihentikan begitu saja di pertengahan cerita. Bagaimana perasaan timbul? Kesal abis, kan? Demikian pula dengan novel satu ini. Semua konflik yang telah dimunculkan di awal cerita, tidak mampu dituntaskan hingga rampung. Kita semua tahu, jika Diana dan Lea secara tidak sengaja terseret ke dunia lain. Lalu lantas, apakah sesudah semua petualangan itu mereka berhasil kembali ke dunia asal mereka? Kita sema juga paham, jika ada 3 pendekar lebih yang jatuh cinta dengan Diana. Lalu lantas, siapa di antara ketiganya yang sukses menggaet hati Diana? Kita semua juga sadar, jika Radja (tokoh antagonis yang melumpuhkan jasad gurunya demi mencuri kitab berisi pengetahuan segala racun), adalah musuh yang paling diburu oleh Diana mengingat hanya wanita itu satu-satunya orang yang tahu bagaimana cara menangkal racun Radja. Lalu lantas, apakah Diana berhasil dengan tujuannya tersebut?
Jawaban dari ketiga pertanyaan sebelumnya adalah: Tak-Ada-Yang-Tahu, kecuali Tuhan dan sang penulis. Karena tidak disebutkan dengan begitu jelas hingga halaman terakhir novel ini. Bahkan seingat saya, Diana sama sekali tak pernah bertatap muka secara langsung dengan Radja. Nah, bagaimana saya bisa memutuskan mana yang lebih hebat diantara keduanya?
Selain itu, kejanggalan lain dari cerita buku ini ialah nama Diana dan Lea yang sama sekali tak mengundang kecurigaan dari masyarakat setempat. Bayangin, nama-nama orang disana itu kayak Gillian, Bixi, Amon, Merope, Rei, Damon, hingga Valta. Ada perbedaan yang begitu jauh, bukan, antara nama Diana dengan Gillian?
At least, menurut saya, berbagai faktor-faktor di atas lumayan merusak ide-ide jenius yang melatari penyusunan novel ini. Jalinan apik antara dunia persilatan dengan dunia fantasi menjadi berantakan hanya karena penempatan alur serta detail cerita yang kurang beraturan. Kisahnya juga dituturkan dengan gaya bahasa yang baik, sehingga tidak terasa monoton. Membuat pembaca, termasuk saya, terus penasaran dengan halaman berikutnya. Namun, saya tetap berharap agar ke depannya muncul sekuel dari kisah ini. Kelanjutan yang akan menuntaskan semua plot, sekaligus melepaskan dahaga kepenasaran pembaca terhadap kelanjutan nasib Diana dan Lea di dunia Ranah Sembilan. Semoga, ya!

Selasa, 17 Juni 2014

[BOOK REVIEW] GARUDA 5 UTUSAN IBLIS

Judul: Garuda 5 Utusan Iblis
Penulis: FA Purawan
Penerbit: Tiga Kelana
Tahun Terbit: 2009
Tebal: 702 Halaman
ISBN: 978-602-8535-22-9
Harga: Rp 99.000,-
Bintang: ★★★★



Di antara sedemikian banyak citra yang menyesakkan mata, masihkah penglihatan patut diandalkan? Di antara suara-suara gaduh memenuhi cakrawala, masihkah pendengaran memegang arah? Tanpa mata, tanpa telinga, tinggallah kalbu. Kalbu menjadi mata yang melihat apa yang tak terlihat, dan menjadi telinga yang mendengar apa yang harus terdengar.” (hal. 682)

Adalah Jaka, sang ketua OSIS SMA Raya, yang terpilih menjadi pemimpin Pasukan Garuda di masa kini. Bersama keempat kompatriotnya, dia dibebani kewajiban mencegah kedatangan utusan Iblis yang mampir ke bumi setiap 666 tahun sekali. Terdengar mudah sekaligus sederhana, jika saja urusan satu ini tak melibatkan satu kerajaan penuh berisi kaum lelembut, orang-orang penganut aliran hitam, hingga nyawa teman-teman SMA mereka yang secara tidak sengaja ikut terseret. Lewat kelebatan mimpi yang menghiasi tidur setiap malamnya, mereka digembleng oleh para leluhur yang juga merupakan Pasukan Garuda di masa lampau. Mulai dari  pemahaman-pemahaman terperinci akan detik-detik kedatangan makhluk laknat dari Neraka itu dalam siklus sebelumnya, sampai berbagai teknik kanuragan yang bisa membuat mereka menjadi jagoan kungfu dalam tempo semalam. Semuanya demi mempersiapkan mereka tepat pada waktunya. Sanggupkah mereka?

Sayangnya, musuh mereka juga sudah berbenah semenjak kegagalan 666 tahun silam. Skenario balas dendam yang tersusun amat rapi, siap digelar kapan pun tiba waktunya. Demi memuluskan ambisi serakah untuk menguasai dunia lewat kesaktian sang utusan Iblis, mereka rela menanti dengan begitu sabar siklus berikutnya, sembari mengawasi lekat-lekat keturunan para pendekar Pasukan Garuda yang akan menjadi pengganjal di kemudian hari. Sebuah kisah yang membangkitkan kembali euforia akan kehebatan dunia persilatan Indonesia yang dipoles dengan kehidupan penuh romansa ABG masa kini, :)

(^-^)
Saya hanya bisa teriak gak karuan saat satu-persatu kotak pandora konflik terbuka. Sama sekali gak menyangka akan ada pimpinan musuh yang menjelma sebagai penyusup dalam Pasukan Garuda. Alur plot yang susah ditebak, juga sering membuat saya tergoda untuk loncat ke bagian akhir, saking penasarannya. Belum lagi, pengembangan karakter tokoh yang sempat membuat saya kecele dalam menjatuhkan ‘vonis’. Seperti saat saya menebak, jika Johannes Pasaribu itu merupakan bagian dari kaum lelembut. Eh, ternyata di bagian akhir si doi malah nongol sebagai salah satu punggawa Garuda Five (nama beken Pasukan Garuda). Gregetan, kan?

Tapi disitulah bagian serunya, sob. Ketika pembaca tidak terlalu cerdas dalam menebak-nebak alur cerita yang dibaca. Malah, menurut saya, bacaan novel itu jadi gak seru saat keseluruhan cerita udah ketebak semenjak awal. Terlalu mainstream. Nah, buku ini lain. Apalagi dibumbui dengan kisah roman picisan ala remaja SMA. Mulai dari cinta segitiga Ratih-Jaka-Prasti, sampai cinta gak nyambung antara Jo yang notabene kalem dengan Siska, pentolan bagian keamanan OSIS SMA Raya. Kisah-kisah tersebut menjadi penurun ketegangan yang emang sewajarnya terjadi dalam novel silat semacam Garuda 5 ini.

Pesan-pesan moral yang ada dalam bacaan ini juga lumayan mengena terhadap realita zaman yang ada pada saat ini. Seperti tawuran antar pelajar, esensi sebuah doa yang semakin tergerus zaman, hingga makna sejati sebuah persahabatan. Saya jadi teringat, catatan-catatan kaki berisi sudut pandang penulis terhadap suatu permasalahan yang ada di sana. Tidak terkesan menggurui meski terkesan sedikit  jayus. Dalam artian, masa lagi seru-seru ngikutin pertarungan yang ada, tiba-tiba kita direcoki dengan catatan-catatan kaki berisi pesan moral dari penulis?

Satu catatan lagi. Entah mengapa saya merasa bahwa buku ini belum memberikan resolusi akhir yang cukup memuaskan pembaca. Terkesan ‘gantung’. Persaingan cinta antara Ratih-Jaka-Prasti dibiarkan berakhir tanpa penyelesaian. Nasib Pasukan Garuda sesudahnya  juga terancam tidak jelas. Apakah melanjutkan kehidupan remaja seperti biasanya, atau akan muncul musuh-musuh lainnya. Saya jadi berpikir, bakalan ada sekuel kedua novel ini. Secara, saya emang pecinta happy ending gitu sih.^^

Tapi, secara keseluruhan semuanya oke kok. Malah saya sempat menyesal, kenapa gak baca ulang sebelum ‘dijarah’ teman-teman. Itu juga yang menjadi alasan saya untuk menyematkan 4 dari 5 bintang yang ada. Recommended benget, deh!