Kamis, 24 Juli 2014

[Book Review] ARTEMIS FOWL: Manusia Jenius vs Kaum Mutakhir

Judul: Artemis Fowl
Penulis: Eoin Colfer
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Mei 2005 (Cetakan Dua)
Tebal: 336 Halaman
ISBN: 979-22-0961-1
 Harga: Rp 40.000,-
Bintang: ★★★★★


“If I win, I'm a prodigy. If I lose, then I'm crazy. That's the way history is written.”

Rencana Artemis Fowl jelas bukan sembarang rencana. Ia berambisi untuk memulihkan kembali kejayaan keluarga yang semakin menyusut semenjak kematian ayahanya. Dan hanya ada satu solusi singkat untuk itu: mencuri. Bukan sekedar merampok atau mencuri bank biasa. Karena percayalah, itu terlalu mudah bagi kejeniusan otaknya. Lagipula, hasil ‘pekerjaan’ itu masih terlalu sedikit untuk bisa menggenapi tujuan Artemis. Tidak, tidak, tidak. Ia akan menyiapkan rencana yang jauh lebih brilian. Ia berencana mencuri emas kaum peri!  

Benarkah kehidupan peri itu nyata adanya? Artemis Fowl terlalu cerdas untuk sekedar terjebak dalam pertanyaan bodoh semacam itu. Ia dan Butler –pengawal yang lebih cocok terlihat sebagai ayahnya- telah menginjakkan kaki di empat benua berbeda demi mengendus informasi terpercaya mengenai keberadaan para peri. Semua mengecewakan, kecuali satu: Ho Chi Minh City, Vietnam. 

Oh kawan, Anda salah besar jika menganggap para peri akan memberikan begitu saja emas mereka seperti dalam berbagai dongeng klasik. Nyatanya, peri-peri yang dihadapi Artemis Fowl merupakan sekumpulan masyarakat berteknologi mutakhir. Peradaban mereka jauh di atas manusia. Mereka berbahaya dan bersenjata. Dan yang terpenting, mereka bersedia melakukan apa saja untuk membebaskan kawan mereka yang ditawan oleh Artemis Fowl.

Namun ingat ini baik-baik, Artemis Fowl memang baru berusia 12 tahun. Tapi ia sudah bertekad akan menjadi pencuri emas lintas spesies pertama yang ada. Dan sangat jarang, bahkan hampir tidak pernah, kegagalan menghalangi seorang Artemis dari mewujudkan tekadnya itu, sesulit apapun rintangan yang menghadang. Jadi, siapa yang akan menang? Si manusia jenius atau makhluk berperadaban mutakhir?

(^^)

Sempurna.

Itu kesan pertama kali yang saya dapati seusai rampung membaca novel ini. Eoin Colfer berhasil menghadirkan sebuah alur cerita yang menarik dan di luar dugaan. Kehidupan para peri, yang biasa dikaitkan dengan dongeng klasik ala Walt Disney, berhasil dipermak menjadi sebuah kaum berperadaban luar biasa modern. Bahkan jauh meninggalkan peradaban manusia 100 tahun di belakang. Disebutkan, mereka telah menguasai teknologi dari berbagai senjata yang selama ini menjadi mimpi penghias tidur manusia. Mulai perisai yang membuat mereka tersamarkan dari mata telanjang, medan waktu yang sanggup mengisolasi suatu daerah selama 8 jam, senapan-senapan kejut bertenaga baterai mini nuklir, hingga bom biologi yang hanya akan membunuh makluk hidup tanpa merusak properti lain sedikitpun. Ini menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka yang mendambakan sebuah penyegaran dalam kisah-kisah para peri. 

Artemis Fowl, meskipun dimunculkan sebagai tokoh antagonis, berhasil menjadi pusat cerita yang cukup unik. Bisa dibilang ia meruapakan versi modern dari Sherlock Holmes dan Profesor Moriety yang digabungkan dalam satu tubuh. Kejeniusannya membuat ia senantiasa berada satu langkah di depan lawan. Ibarat permainan catur, maka Artemis Fowl memainkan bidak putih sekaligus bidak hitam secara bersamaan. Musuhnya –dalam hal ini berarti kaum peri-hanya bisa mengikuti arus permainan yang telah diprediksi oleh Artemis jauh-jauh hari. 

Namun, satu hal yang saya salut, Eoin Colfer tidak melupakan begitu saja sisi kanak-kanak dari seorang Artemis Fowl. Sejenius apapun dia, Artemis tetap saja masih berusia 12 tahun. Ada beberapa bagian di novel ini yang menunjukkan secara jelas akan hal itu. Seperti saat Artemis merindukan ayahnya yang tak kunjung ditemukan setelah kecelakaan kapalnya. Atau ketika Artemis begitu khawatir dengan kondisi ibunya yang semakin labil semenjak sang suami hilang. Atau pula saat Artemis merasa kesepian akibat kurangnya asupan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Dan masih banyak lagi. Itu semua menumbuhkan nilai moral bagi pembaca bahwa masa kanak-kanak tetaplah merupakan masa kanak-kanak. Seberapa kuat, jenius, hebat, kaya seorang anak, tetap saja dia masih membutuhkan belaian kasih sayang dari orang tuanya. ^^

Semua perpaduan itu –tentunya masih ditambah dengan beberapa aspek yang tak saya sebutkan secara spesifik di review ini- membuat saya berani mengatakan bahwa novel ini begitu sempurna. Begitu seimbang. Begitu menghibur. Sekaligus begitu menegangkan. Five Stars, guys!




















0 komentar:

Posting Komentar